Seoul Station’s Necromancer – Chapter 1
11:53 PM
Chapter
1—Akhirnya tiba di Seoul!
Tubuhnya di kelilingi oleh cahaya yang mengalir keluar
dari administrator dimensi. Seluruh tubuhnya terasa hancur hingga ke sel-sel
tubuhnya kemudian dia merasakan sensasi aneh saat sel-selnya seakan tercerai
berai ketika kegelapan menelannya.
Dia berada di tempat yang sangat jauh, dimana waktu
dengan mudah terlupakan. Meskipun dia berusaha keras, namun dia hampir tidak
mampu memepertahankan kesadarannya.
‘Gang-woojin! Bangun.’
Dia tidak tahu sudah berapa lama waktu telah
berlalu, tapi cahaya akhirnya muncul dari kegelapan. Cahaya itu mendekatinya
dan dia ditelan oleh cahaya. Kemudian dunia menjadi terang, dan bau busuk
sampah menusuk hidungnya.
‘Oooh ooh’
Dia mengerang, tapi tidak mampu mengeluarkan suara
lainnya. Dia hanya mampu membuka matanya, dan apa yang terlihat hanya atap bata
yang telah hancur. Setelah beberapa waktu, dia akhirnya merasakan sensasi di
jari-jarinya telah kembali.
Dia mulai merasakan di sekelilingnya. Dia berada di
atas karung goni yang bisa di daur ulang. Bau busuk sampah yang tidak diketahui
berasal dari sana.
“Aku telah kembali.”
Dia berpikir bahwa dia tahu tempat ini dimana. Dia
mengingatnya ketika melihat sekilas dari memorinya dulu yang hampir terlupakan.
“Tempat pembakaran sampah tanaman sekolah”
Dia telah pergi ke “tempat itu” dua puluh tahun lalu
dari lokasi ini. Dia telah kembali lagi ke tempat awal peristiwa tersebut
dimulai.
‘Ini sudah berlalu dua puluh tahun, tapi semuanya
masih terlihat sama.’
Ini terlihat sedikit tua, tapi tempat pembakaran
sampah tanaman ini terlihat sama. Ketika dia perlahan menunggu sensasi kembali dirasakan
pada tubuhnya, dia membiarkan tubuhnya kembali pulih.
“Hei, fuck. Cepat sedikit, dasar kampret.”
Dia hampir tidak mampu menoleh ke arah suara
tersebut ketika suara tersebut tiba-tiba muncul. Murid sekolah yang menggunakan
seragam yang familiar mulai menuruni tempat pembakaran sampah tanaman.
“Seragamnya masih tetap sama.”
Ini tidak akan mengagetkan dia jika desain seragam
telah berubah sejak dua puluh tahun lalu. Tapi, seragam itu tidak berubah, dan
merupakan pemandangan yang menggembirakan. Ketika dia melihat mereka, dia tahu
bahwa dia telah benar-benar kembali ke bumi, sehingga dia tidak bisa mengontrol
emosinya.
Pada pandangan sekilas, tiga murid berseragam
menyeret murid lain. Dia terlihat terlalu normal untuk di bully. Juga dia
merupakan murid yang ganteng.
“Dasar anak pelacur. Kamu bisa bicara lagi setelah
aku memukulmu”
“Kenapa aku harus dipukul?”
“Apa? Masih bisa bicara ya? Dasar anak pelacur.”
Tinju mereka mulai berterbangan dan keduanya
berkelahi seperti anjing. Dua orang yang tadinya menonton akhirnya mulai
bergabung dalam perkelahian tersebut, dan perkelahian tersebut menjadi
pembantaian satu sisi.
“Kamu berani melawanku? You asshole.”
“Kamu itu bagaikan duri dimata kami. Masuk sekolah
dalam diam sana.”
Dia merasa senang melihat mereka bertiga membantai
satu murid. Entah bagaimana itu membuat dia mengingat masa lalu. Mungkin iitu
karena dia mengalami pengalaman yang brutal selama 20 tahun, sehingga permainan
anak-anak seperti ini diangap cute baginya.
Mereka memukulinya hingga dia berpikir bahwa murid
tersebut mungkin bisa mati. Tapi kemudian kelompok tersebut berhenti untuk
beristirahat sejenak. Murid tersebut melindungi kepalanya dengan lengan, dan di
tubuhnya penuh dengan berbagai luka. Meski begitu, dimatanya masih memancarkan
cahaya yang tajam.
Pemimpin kelompok tersebut, Lee-joonhyuk, tidak
menyukai cahaya yang terlihat dimata Do-jaemin. Semua murid takut untuk melihat
ke arahnya. Mereka menghindari melihat langsung dirinya atau melihatnya dengan
rasa cemburu di mata mereka. Namun, anak pelacur ini melihat langsung kepadanya
dengan mata yang penuh cahaya tajam itu.
“Ha. Fuck. Yo, Jaemin. Apakah itu terasa sakit?
Ataukah sangat sangat sakit? Bukankah aku sudah bilang untuk berhenti melakukan
sesuatu yang mengganggu di depan mataku? Pergi ke sekolah tanpa keributan saja,
oke?”
“Jangan banyak ngomong. Fuck”
Hal yang menggangu? Jaemin telah belajar tanpa
keributan, dan tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Masalahnya adalah dia
sangat ganteng. Dia di hajar karena seorang gadis menyukai Jaemin, tapi dia
merupakan orang yang disukai Lee-soonhyuk.
“Ha. Anak pelacur ini masih belum sadar juga
ternyata. Dia perlu beberapa tinju yang mantap. Tahan tubuh si brengsek ini
supaya dia tidak bisa lari.”
Pada saat itu, seluruh sensasi tubuh Woojin telah
kembali sepenuhnya.
“Hei, itu cukup.”
Ketika suara itu terdengar, murid-murid tersebut
mulai melihat di sekeliling mereka dengan terkejut. Mereka melihat seorang pria
mengenakan pakaian yang aneh berdiri dari atas karung goni.
“Fuck you. Apa urusanmu dengan kami? Sudah berapa
lama kamu berada disitu?”
“Hah? Fuck? Satu-satunya yang anak-anak brengsek
seperti kalian mampu ucapkan ketika bertemu dengan senior yang hebat yang
kekuatannya menyaingi langit?”
Woojin turun dari tumpukan karung goni. Ah,
permukaan bumi. Sudah 20 tahun semenjak aku bisa berdiri di atasnya.
Meskipun mereka merupakan preman, tapi mereka hanya
anak-anak di depan orang dewasa. Mereka merasa kaget dan mulai melihat di
sekeliling dengan diam-diam. Biasanya, preman sangat ketat dalam menghargai
keturunan sekolah. (Notes: Orang Korea sangat menghormati alumni dari sekolah
mereka).
“Fuck. Siapa yang peduli bila kamu itu senior kami?”
Aku pikir tidak seperti itu lagi sekarang.
“Mengapa kamu tidak berhenti memperhatikan kami dan
melanjutkan pekerjaanmu? Aku tidak mengerti kenapa seorang pengemis coba ikut
campur. Kami, murid-murid SMA tidak takut apapun sekarang ini, Paman, pergi
saja sana.”
Soohyuk sangat blak-blakan. Ucapan Soohyuk
menghilangkan kekhawatiran teman-temannya. Dia telah memikirkan segalanya. Pria
yang muncul ini bukan guru disini. Terlebih lagi dia ada di tempat pembakaran
sampah. Dia sangat yakin bahwa pria ini adalah orang idiot di daerah sekitar
sekolah. Dia juga mengenakan pakaian yang sangat aneh.
“Huh? Mengapa anak-anak sekarang sangat kasar
terutama di depan senior yang berbeda 20 tahun dengan mereka?”
Saat ini Soohyuk semakin yakin setelah mendengar
Wookin bergumam dengan dirinya sendiri. Paling tidak, pria ini terlihat seperti
mahasiswa dan harusnya masih berumur sekitar 20-an tahun. Dia semakin yakin
bahwa pria ini kehilangan akal sehatnya.
“Jika kamu tidak ingin dipukuli, maka pergi sana.
Dasar pelacur kecil.”
Dia berpikir pria ini akan lari jika dia
menakut-nakutinya sedikit. Tapi yang terjadi justru tangan pria tersebut
terangkat dan terasa mengancam.
“Itu tidak akan berhasil.”
Woojin mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke
depan dengan cepat sehingga Soohyuk kaget dan tanpa disadari mundur ke
belakang.
“.....”
“.....”
Woojin keget dan mencoba mengarahkan tangannya le
arah depan sekali lagi. Mengapa binding magic tidak terbentuk? Soohyuk
mengerutkan dahi terhadap Woojin yang masih kaget.
“Shit. Apa yang coba kamu lakukan?”
“Eh? kenapa ini menjadi seperti ini? Bind!”
Woojin, terus menerus mengarahkan tangannya kedepan
ketika dia berteriak. Tapi magic tetap tidak terbentuk. Soohyuk langsung
mengejeknya.
“Shit. Aku sempat takut untuk hal yang tidak ada
apa-apanya oleh si Otaku brengsek ini.”
Soohyuk menjadi lebih yakin. Dia sempat takut untuk sesaat oleh si
idiot kampung ini, sehingga rasa percaya dirinya terluka. Dia kemudian berlari
ke arah depan dan mengarahkan tinjunya kepada Woojin.
Sebelum tinju Soohyuk bisa mendarat ke kepala
Woojin, Woojin menyerongkan kepalanya, dan berpindah ke samping.
Woosh.
“Huh? kamu bisa menghidnarinya?”
Woosh.
“Dasar anak pelacur. Kamu cari mati yah. Ayo
teman-teman hajar dia!”
Pada seruan Soohyuk, anak buahnya berlari ke arah
Woojin.
“Aku tidak bisa merasakan magic sialan itu”
Woojin merasa kaget ketika energi magic, yang selalu
ada di tangan dan kakinya selama 20 tahun, tidak berespon dengan perintahnya.
meski begitu, walaupun dia kehilangan magic-nya, tapi dia tidak cukup lemah
untuk dipukuli tinju anak SMA.
Magician dikenal memiliki fisik yang lebih lemah
dari warrior, tapi ini hanya berlaku di dunia lain tersebut. Di tempat ini,
kemampuan fisiknya mampu mengalahkan tim Pasukan khusus.
Jika dia ingin bertahan di tempat yang di penuhi
oleh monster, latihan tubuhnya harus setingkat itu.
Woojin menghindari setiap pukulan anak buah Soohyuk,
kemudian meninju mereka dengan pelan bagian pinggang.
Puh-puh-puk.
“Ook.”
Tiga serangan yang akurat membuat mereka bertiga
merangkak di tanah. Itu terjadi sangat cepat hingga Do-jaemin lupa dengan
tubuhnya yang sakit, dan dia menatap Woojin seperti orang bego.
“He.. Hebat.”
Setelah Woojin mengalahkan murid-murid sialan
tersebut dia mengusap-usap dahinya. Ketika pikirannya menjadi sangat kompleks,
dia memiliki kebiasaan yang tidak disengaja untuk melakukan gerakan tersebut.
“Well, kurasa hal ini tidak masalah?”
Mungkin ini merupakan efek samping dari perjalanan
antar dimensi. Dia tidak yakin jika dia telah kehilangan magic-nya ataukah
magic tersebut telah tersegel. Meski begitu itu mungkin tidak masalah.
Tempat ini adalah Seoul.
Monster tidak akan lagi mengancam dirinya, dan dia
tidak perlu bertarung hingga mati untuk bertahan hidup.
Mungkin?
Notes: Aku menerjemahkan ini hingga larut malam,
jadi kalau ada yang merasa hurufnya ketinggalan atau translate-nya agak aneh,
bisa comment agar bisa dikoreksi. Aku
sangat berterima kasih jika ada kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Feel free to sharing your opinion in the comment below. (Liana)
--------------------------
Notes: Dilarang menggunakan terjemahan ini untuk kepentingan komersil. Hak cipta tetap milik penulis novel.

1 comments
Thanks!
ReplyDeleteCan't wait the next chapter.