Seoul Station’s Necromancer – Chapter 2

5:33 AM




Chapter 2 – Akhirnya tiba di Seoul (Bagian 2)



Murid-murid tersebut terbatuk-batuk beberapa kali. Mereka berusaha bangun dengan perlahan-lahan, kemmudia mereka lari menjauh setelah memeriksa situasi. Woojin sempat berpikir untuk mengejar mereka. Tapi dia tidak memiliki alasan untuk itu, sehingga dia membairkan mereka kabur.

“Ma.. makasih banyak hyungnim.”

Do-jaemin mendekatinya, kemudian membungkukkan kepalanya. Orang aneh ini mengenakan pakaian yang tak kalah aneh, tapi dia telah menolong Jaemin.

“Ah, biasa saja. Tapi aku ingin bertanya sesuatu kepadamu”

Jaemin mulai berpikir mengenai cerita seperti apa yang harus dia katakan ketika dia mendengar pertanyaan Woojin. Karena dia telah menyelamatkan seorang anak dari aksi bully, dia pikir Woojin akan bertanya pertanyaan seperti ‘Mengapa mereka memukulimu?’ Namun hal ini jika dia benar-benar orang dewasa yang normal.

“Tanggal berapa ini?”

“Hah? Bisa hyungnim ulangi?”

“Aku bertanya sekarang tanggal berapa?”

“Ah, ini tanggal 10 November hyungnim”

“Tahun berapa sekarang”

“Apa?!”

Kim-woojin sangat kaget hingga dia tidak bisa berbicara untuk waktu yang lama. Dia telah di ‘kirim’ ke dunia lain pada tahun 2010. Saat itu dia masih kelas tiga SMA.

“Ha. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Dia telah menghabiskan waktu selama 20 tahun di dunia yang lain itu, tapi itu hanya sebanyak 5 tahun di bumi. Woojin mengelus-ngelus dahinya lagi saat dia berpikir keras.

“Mungkin ini lebih baik bagiku?”

Dia berpikir di bumi telah berlalu 20 tahun lamanya semenjak dia pergi, dan dia tidak pernah berpikir sebaliknya. Karena hal ini lah mengapa dia berpikir bahwa dia tidak mungkin mencari keluarganya lagi. Akan tetapi jika dia menghilang hanya 5 tahun, mereka mungkin masih tinggal di rumah yang sama.

Jika dia berpikir mengenai hal tersebut, itu bukanlah hal yang buruk.

“Hei, sekarang aku kelihatan berumur berapa?”

“Apa hyungnim?”

Mungkin pepatah yang mengatakan ‘keluar dari wajan penggorengan untuk kemudian masuk ke api’ dapat digunakan pada situasi ini? Dia telah menghindari pada murid-murid jahat yang memukulinya tapi dia justru ditangkap oleh orang gila sekarang.

Jaemin berpikir apa yang harus dia katakan, tapi dia memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya.

“Sekitar dua puluh dua hyungnim”

“Benarkah seperti itu?”

‘Apakah tubuhku menjadi lebih muda? Apakah aku menjadi lebih muda setelah kehilangan seluruh magic-ku? Atau, tubuhku melakukan restrukturisasi kembali?’

Dia masih terkejut dengan hal ini, tapi dia memiliki beberapa masalah penting yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.

Dia telah kembali setelah dua puluh tahun, tapi disini hanya 5 tahun berlalu sejak kepergiannya.
Prioritas penting pertamanya yaitu mencari keluarganya. Dia tidak bisa mengingat nomor telepon rumahnya dan tentu saja, tidak mengingat satu pun nomor handphone mereka. Untung saja, dia berada di SMA tempat dia sekolah dulu, jadi dia masih mengingat cara pulang ke rumah. Jika mereka tidak pindah rumah, dia bisa bertemu dengan keluarganya hari ini.

Masalahnya adalah bagaimana caranya pulang? Jarak ke rumahnya sama dengan naik bus melalui tujuh stasiun. Mata woojin terlihat tidak yakin.

“Biarkan aku meminjam uangmu.”

“Hah?”

“Biarkan aku meminjam uangmu untuk ongkos bus”

Jaemin menyesal mengapa dia tidak lari bersama murid-murid tadi. Dia tidak berani menolak Woojin. Dia mampu mengalahkan tiga orang hanya dengan satu pukulan, jadi jika Jaemin menolak meminjamkannya uang, dia pasti bakal kena tinju.

Jaemin merogoh sakunya, dan memberikan seluruh uang yang dia miliki. Dia memiliki uang sebanyak 7300 won.

“Terima kasih. Aku berjanji akan mengganti uangmu nanti”

“Ti.. Tidak perlu hyungnim. Kau tak perlu menggantinya”

“Tidak, aku pasti akan menggantinya. Apakah kamu berpikir bahwa aku adalah seorang pria yang minta uang pajak sama anak-anak?”

Woojin mencari-cari sesuatu di dalam sakunya, kemudian dia berkata seperti dia telah lupa mengenai sesuatu.

“Oh iya. Aku tidak punya handphone. Kamu tulis nomor HP mu di kertas untukku sekarang”

Jaemin mengikuti perintah Woojin, dan dia mengambil buku dari tas punggungnya. Dia merobek ujung kertas dan menulis nomor HP-nya. Dia berpikir banyak kali apakah dia harus menulis nomor asli atau nomor palsu.

‘Eh, dia pasti gak bakalan tahu’

Jaemin dengan sengaja menuli nomor palsu. Dia tidak ingin di telepon dan di mintai uang lagi. Dia ingin pergi dari sini secepat mungkin sebelum pria tersebut bisa memeras dia lebih lanjut.

“Oke, hyung bakalan meneleponmu dan mengganti uang yang sudah ku pinjam.”

“Baik hyungnim. Have a nice day”

Meskipun pria ini tidak mengganti uangnya, Jaemin hanya ingin secepatnya kabur, dan tidak ingin menemui pria ini lagi. Woojin akhirnya sendiri lagi. Dia meninggalkan tempat pembakaran sampah kemudian berjalan di sekitar sekolah.

“Ha. Memori masa sekolah dulu terus bermunculan di kepalaku”

Hanya lima tahun yang telah berlalu, tapi ini sudah dua puluh tahun lamanya Woojin terakhir kali mengunjungi sekolah ini.

“Aku berumur 24 tahun? Papa dan mama harusnya sudah berumur lebih dari 50 tahun sekarang”

Ketika dia berpikir tentang keluarganya, hati Woojin terasa terharu biru. Dia telah melewati waktu yang terasa seperti siksaan neraka, dimana dia hanya berharap akan tiba waktunnya dia bisa kembali ke pelukan keluarganya lagi.

“Aku rasa Sooah telah tumbuh besar sekarang?”

Adik terkecilnya, Sooah, baru berumur 2 tahun ketika dia pergi, jadi sekarang dia sudah berumur 7 tahun. Langkah Woojin semakin cepat ketika dia berpikir mengenai keluarganya. Ketika dia berjalan di trotoar setelah keluar dari area sekolah, setiap orang yang ditemuinya akan berbisik di belakangnya. Ini bisa dimengerti karena pakaian Woojin saat ini terlihat compang camping.

Mungkin ini merupakan efek dari travel antar dimensi, tapi perlengkapannya telah menguap. Woojin terlihat seperti pengemis. Bahkan sepatu yang dia gunakan adalah sepatu kulit binatang, sehingga dia terlihat aneh di mata orang-orang.

“Jeez.”

Dia sedikit merasa malu, tapi hal ini tidak menurunkan semangatnya. Keaadaan mental Woojin telah melambung tinggi hingga ke poin dia tidak akan menundukkan kepalanya, hanya karena pakaiannya yang seperti pengemis. Ini hanya akan terlihat memalukan hingga dia sampai di rumahnya.

Woojin berusaha keras untuk mengabaikan setiap bisikan yang datang dari orang-orang yang dia temui, dan ketika dia menemukan stasiun subway..

“Huh? Mengapa ada pasukan militer disini? Apakah terdapat kecelakaan?”

Para tentara ditempatkan di sekitar pintu masuk stasiun subway. Ini tidak terlihat seperti latihan pengamanan. Mereka bahkan menempatkan pagar besi dan terdapat penjaga di sekitarnya.

“Jeez. Apa ini?”

Woojin mencoba bertanya kepada pejalan kaki yang dia lewati saat itu.

“Permisi. Aku ingin bertanya kepadamu.”

“Ah. Aku tidak percaya itu.”

Seorang wanita paruh baya berumur sekitar 40-an tahun menjawab dengan kesal seperti dia telah melihat seekor serangga. Dia segera pergi dengan buru-buru.

Apa ini? Ini terasa aneh.

Dia cepat-cepat memberhentikan dua murid wanita, yang sepertinya anak SMA.

“Permisi.”

“Ah, lepaskan aku. Aku tidak tahu apa-apa mengenai religion”

Woojin menjadi sedikit kesal dengan respon murid tersebut, tapi dia berusaha tetap tenang.

“Aku bukan ingin menanyakan mengenai religion. Apa yang dilakukan para tentara itu disana? Apakah mereka sedang latihan?”

“Tentu saja, para tentara itu sedang menjaga pintu masuk dungeon. Ah, lepaskan aku. Aku harus pergi ke tempat les.”

Murid wanita itu berhasil lepas dari genggaman Woojin. Dia mulai berjalan menjauh sambil membersihkan lengannya seakan-akan telah disentuh sesuatu yang kotor.

“Ha, sungguh sangat tidak sopan”

Dia memperkirakan bahwa orang-orang menganggap stasiu subway sebagai dungeon. Di berpikir bahwa lima tahun merupakan waktu yang sedikit, tapi ternyata tidak.

“Aku rasa itu adalah istilah populer yang digunakan anak-anak saat ini.”

Well, aku juga melakukan hal yang sama ketika aku masih SMA.

Istilah-istilah gaul dan singkatan berubah dengan cepat seiring dengan berkembangnya internet. Ini bukanlah hal yang mengejutkan jika seseorang seperti Woojin dari 5 tahun yang lalu tidak mengetahui istilah ini.

“Huh? Tidak ada tentara yang menjaga tempat ini.”

Setelah memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang ada pada pintu masuk stasiun subway di seberang jalan, dia menyeberangi jalan ke arah pintu masuk tersebut. Ketika dia mulai menuruni pintu masuk subway, dia melihat jeruji besi dan pintu besi yang terlihat seperti di penjara-penjara.

“What the heck? mengapa mereka menutup tempat ini?”

Pantas saja tidak ada seorang pun disini. Mereka telah menutup tempat ini. Woojin melihat ke jeruji di seberang, dan dia melihat cahaya datang dari terowongan subway.

Pintu besi juga terkunci dengan kunci yang kuat dan keras. Dia melihat di sekelilingnya dan melihat ruangan yang berukuran kecil yang terlihat seperti pos penjaga. Dia melihat ke dalam ruangan tersebut, dan menemukan buntelan kunci. Dia mengambilnya dan mencoba membuka pintu tersebut.

Klik. Pintu itu akhirnya terbuka.

“Apa-apaan ini? Apakah pekerja subway sedang pergi keluar?”

Dia mengembalikan buntelan kunci itu ke tempat semula, kemudian berjalan menuju sisi lain dari pintu besi tersebut. Tidak ada siapapun di bawah lampu penerangan yang sangat silau tersebut, dan suasananya agak sedikit menyeramkan.

“Mereka mungkin telah menutup stasiun ini.”

Jika mereka telah menutup stasiun maka tidak mungkin mereka akan mengoperasikan kereta subway. Woojin ingin kembali ketika hal itu terjadi.

< Kamu telah memasuki dungeon pada pintu keluar pertama Stasiun Gwachun.>

“Huh. Apa itu?”



--------------------------
Notes: Dilarang menggunakan terjemahan ini untuk kepentingan komersil. Hak cipta tetap milik penulis novel.
 

You Might Also Like

1 comments