Seoul Station’s Necromancer – Chapter 1

11:53 PM





http://thestoriesblogger.blogspot.co.id/2016/11/seoul-stations-necromancer-bahasa.html


Note: Sebelum baca, inget baca istighfar yah, soalnya chapter ini banyak sumpah serapahnya :p

Chapter 1—Akhirnya tiba di Seoul!

Tubuhnya di kelilingi oleh cahaya yang mengalir keluar dari administrator dimensi. Seluruh tubuhnya terasa hancur hingga ke sel-sel tubuhnya kemudian dia merasakan sensasi aneh saat sel-selnya seakan tercerai berai ketika kegelapan menelannya.

Dia berada di tempat yang sangat jauh, dimana waktu dengan mudah terlupakan. Meskipun dia berusaha keras, namun dia hampir tidak mampu memepertahankan kesadarannya.

‘Gang-woojin! Bangun.’

Dia tidak tahu sudah berapa lama waktu telah berlalu, tapi cahaya akhirnya muncul dari kegelapan. Cahaya itu mendekatinya dan dia ditelan oleh cahaya. Kemudian dunia menjadi terang, dan bau busuk sampah menusuk hidungnya.

‘Oooh ooh’

Dia mengerang, tapi tidak mampu mengeluarkan suara lainnya. Dia hanya mampu membuka matanya, dan apa yang terlihat hanya atap bata yang telah hancur. Setelah beberapa waktu, dia akhirnya merasakan sensasi di jari-jarinya telah kembali.

Dia mulai merasakan di sekelilingnya. Dia berada di atas karung goni yang bisa di daur ulang. Bau busuk sampah yang tidak diketahui berasal dari sana.

“Aku telah kembali.”

Dia berpikir bahwa dia tahu tempat ini dimana. Dia mengingatnya ketika melihat sekilas dari memorinya dulu yang hampir terlupakan.

“Tempat pembakaran sampah tanaman sekolah”

Dia telah pergi ke “tempat itu” dua puluh tahun lalu dari lokasi ini. Dia telah kembali lagi ke tempat awal peristiwa tersebut dimulai.

‘Ini sudah berlalu dua puluh tahun, tapi semuanya masih terlihat sama.’

Ini terlihat sedikit tua, tapi tempat pembakaran sampah tanaman ini terlihat sama. Ketika dia perlahan menunggu sensasi kembali dirasakan pada tubuhnya, dia membiarkan tubuhnya kembali pulih.

“Hei, fuck. Cepat sedikit, dasar kampret.”

Dia hampir tidak mampu menoleh ke arah suara tersebut ketika suara tersebut tiba-tiba muncul. Murid sekolah yang menggunakan seragam yang familiar mulai menuruni tempat pembakaran sampah tanaman.

“Seragamnya masih tetap sama.”

Ini tidak akan mengagetkan dia jika desain seragam telah berubah sejak dua puluh tahun lalu. Tapi, seragam itu tidak berubah, dan merupakan pemandangan yang menggembirakan. Ketika dia melihat mereka, dia tahu bahwa dia telah benar-benar kembali ke bumi, sehingga dia tidak bisa mengontrol emosinya.

Pada pandangan sekilas, tiga murid berseragam menyeret murid lain. Dia terlihat terlalu normal untuk di bully. Juga dia merupakan murid yang ganteng.

“Dasar anak pelacur. Kamu bisa bicara lagi setelah aku memukulmu”

“Kenapa aku harus dipukul?”

“Apa? Masih bisa bicara ya? Dasar anak pelacur.”

Tinju mereka mulai berterbangan dan keduanya berkelahi seperti anjing. Dua orang yang tadinya menonton akhirnya mulai bergabung dalam perkelahian tersebut, dan perkelahian tersebut menjadi pembantaian satu sisi.

“Kamu berani melawanku? You asshole.”

“Kamu itu bagaikan duri dimata kami. Masuk sekolah dalam diam sana.”

Dia merasa senang melihat mereka bertiga membantai satu murid. Entah bagaimana itu membuat dia mengingat masa lalu. Mungkin iitu karena dia mengalami pengalaman yang brutal selama 20 tahun, sehingga permainan anak-anak seperti ini diangap cute baginya.

Mereka memukulinya hingga dia berpikir bahwa murid tersebut mungkin bisa mati. Tapi kemudian kelompok tersebut berhenti untuk beristirahat sejenak. Murid tersebut melindungi kepalanya dengan lengan, dan di tubuhnya penuh dengan berbagai luka. Meski begitu, dimatanya masih memancarkan cahaya yang tajam.

Pemimpin kelompok tersebut, Lee-joonhyuk, tidak menyukai cahaya yang terlihat dimata Do-jaemin. Semua murid takut untuk melihat ke arahnya. Mereka menghindari melihat langsung dirinya atau melihatnya dengan rasa cemburu di mata mereka. Namun, anak pelacur ini melihat langsung kepadanya dengan mata yang penuh cahaya tajam itu.

“Ha. Fuck. Yo, Jaemin. Apakah itu terasa sakit? Ataukah sangat sangat sakit? Bukankah aku sudah bilang untuk berhenti melakukan sesuatu yang mengganggu di depan mataku? Pergi ke sekolah tanpa keributan saja, oke?”

“Jangan banyak ngomong. Fuck”

Hal yang menggangu? Jaemin telah belajar tanpa keributan, dan tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Masalahnya adalah dia sangat ganteng. Dia di hajar karena seorang gadis menyukai Jaemin, tapi dia merupakan orang yang disukai Lee-soonhyuk.

“Ha. Anak pelacur ini masih belum sadar juga ternyata. Dia perlu beberapa tinju yang mantap. Tahan tubuh si brengsek ini supaya dia tidak bisa lari.”

Pada saat itu, seluruh sensasi tubuh Woojin telah kembali sepenuhnya.

“Hei, itu cukup.”

Ketika suara itu terdengar, murid-murid tersebut mulai melihat di sekeliling mereka dengan terkejut. Mereka melihat seorang pria mengenakan pakaian yang aneh berdiri dari atas karung goni.

“Fuck you. Apa urusanmu dengan kami? Sudah berapa lama kamu berada disitu?”

“Hah? Fuck? Satu-satunya yang anak-anak brengsek seperti kalian mampu ucapkan ketika bertemu dengan senior yang hebat yang kekuatannya menyaingi langit?”

Woojin turun dari tumpukan karung goni. Ah, permukaan bumi. Sudah 20 tahun semenjak aku bisa berdiri di atasnya.

Meskipun mereka merupakan preman, tapi mereka hanya anak-anak di depan orang dewasa. Mereka merasa kaget dan mulai melihat di sekeliling dengan diam-diam. Biasanya, preman sangat ketat dalam menghargai keturunan sekolah. (Notes: Orang Korea sangat menghormati alumni dari sekolah mereka).

“Fuck. Siapa yang peduli bila kamu itu senior kami?”

Aku pikir tidak seperti itu lagi sekarang.

“Mengapa kamu tidak berhenti memperhatikan kami dan melanjutkan pekerjaanmu? Aku tidak mengerti kenapa seorang pengemis coba ikut campur. Kami, murid-murid SMA tidak takut apapun sekarang ini, Paman, pergi saja sana.”

Soohyuk sangat blak-blakan. Ucapan Soohyuk menghilangkan kekhawatiran teman-temannya. Dia telah memikirkan segalanya. Pria yang muncul ini bukan guru disini. Terlebih lagi dia ada di tempat pembakaran sampah. Dia sangat yakin bahwa pria ini adalah orang idiot di daerah sekitar sekolah. Dia juga mengenakan pakaian yang sangat aneh.

“Huh? Mengapa anak-anak sekarang sangat kasar terutama di depan senior yang berbeda 20 tahun dengan mereka?”

Saat ini Soohyuk semakin yakin setelah mendengar Wookin bergumam dengan dirinya sendiri. Paling tidak, pria ini terlihat seperti mahasiswa dan harusnya masih berumur sekitar 20-an tahun. Dia semakin yakin bahwa pria ini kehilangan akal sehatnya.

“Jika kamu tidak ingin dipukuli, maka pergi sana. Dasar pelacur kecil.”

Dia berpikir pria ini akan lari jika dia menakut-nakutinya sedikit. Tapi yang terjadi justru tangan pria tersebut terangkat dan terasa mengancam.

“Itu tidak akan berhasil.”

Woojin mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke depan dengan cepat sehingga Soohyuk kaget dan tanpa disadari mundur ke belakang.

“.....”

“.....”

Woojin keget dan mencoba mengarahkan tangannya le arah depan sekali lagi. Mengapa binding magic tidak terbentuk? Soohyuk mengerutkan dahi terhadap Woojin yang masih kaget.

“Shit. Apa yang coba kamu lakukan?”

“Eh? kenapa ini menjadi seperti ini? Bind!”

Woojin, terus menerus mengarahkan tangannya kedepan ketika dia berteriak. Tapi magic tetap tidak terbentuk. Soohyuk langsung mengejeknya.

“Shit. Aku sempat takut untuk hal yang tidak ada apa-apanya oleh si Otaku brengsek ini.”

Soohyuk menjadi lebih yakin. Dia sempat takut untuk sesaat oleh si idiot kampung ini, sehingga rasa percaya dirinya terluka. Dia kemudian berlari ke arah depan dan mengarahkan tinjunya kepada Woojin.

Sebelum tinju Soohyuk bisa mendarat ke kepala Woojin, Woojin menyerongkan kepalanya, dan berpindah ke samping.

Woosh.

“Huh? kamu bisa menghidnarinya?”

Woosh.

“Dasar anak pelacur. Kamu cari mati yah. Ayo teman-teman hajar dia!”

Pada seruan Soohyuk, anak buahnya berlari ke arah Woojin.

“Aku tidak bisa merasakan magic sialan itu”

Woojin merasa kaget ketika energi magic, yang selalu ada di tangan dan kakinya selama 20 tahun, tidak berespon dengan perintahnya. meski begitu, walaupun dia kehilangan magic-nya, tapi dia tidak cukup lemah untuk dipukuli tinju anak SMA.

Magician dikenal memiliki fisik yang lebih lemah dari warrior, tapi ini hanya berlaku di dunia lain tersebut. Di tempat ini, kemampuan fisiknya mampu mengalahkan tim Pasukan khusus.

Jika dia ingin bertahan di tempat yang di penuhi oleh monster, latihan tubuhnya harus setingkat itu.

Woojin menghindari setiap pukulan anak buah Soohyuk, kemudian meninju mereka dengan pelan bagian pinggang.

Puh-puh-puk.

“Ook.”

Tiga serangan yang akurat membuat mereka bertiga merangkak di tanah. Itu terjadi sangat cepat hingga Do-jaemin lupa dengan tubuhnya yang sakit, dan dia menatap Woojin seperti orang bego.

“He.. Hebat.”

Setelah Woojin mengalahkan murid-murid sialan tersebut dia mengusap-usap dahinya. Ketika pikirannya menjadi sangat kompleks, dia memiliki kebiasaan yang tidak disengaja untuk melakukan gerakan tersebut.

“Well, kurasa hal ini tidak masalah?”

Mungkin ini merupakan efek samping dari perjalanan antar dimensi. Dia tidak yakin jika dia telah kehilangan magic-nya ataukah magic tersebut telah tersegel. Meski begitu itu mungkin tidak masalah.

Tempat ini adalah Seoul.

Monster tidak akan lagi mengancam dirinya, dan dia tidak perlu bertarung hingga mati untuk bertahan hidup.
Mungkin?


Notes: Aku menerjemahkan ini hingga larut malam, jadi kalau ada yang merasa hurufnya ketinggalan atau translate-nya agak aneh, bisa comment agar bisa dikoreksi.  Aku sangat berterima kasih jika ada kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Feel free to sharing your opinion in the comment below. (Liana)


--------------------------
Notes: Dilarang menggunakan terjemahan ini untuk kepentingan komersil. Hak cipta tetap milik penulis novel.
 


You Might Also Like

1 comments